Nederlander vermoord in Indonesië

mark pleizierDe Nederlander Marc Pleizier (26) (foto), is vrijdagavond rond 10 uur vermoord in Nunukan op het gelijknamige eilandje Nunukan Timur (Oost-Nunukan) in de provincie Oost-Kalimantan (op Borneo), Indonesië. Hij werd met 12 messteken doodgestoken door Basri bin Ismail (27). 

Pleizier, een neuroloog in opleiding in het AMC in Amsterdam, was 9 juli in Nunukan aangekomen op doorreis van Tawau, in Sabah, Maleisie op weg naar Sebuku Island, in het zuiden van Kalimantan en verbleef in het Jombang Hotel in Nunukan.

In Nunukan liep hij over de avondmarkt (Pasar Malam) toen op de Radiostraat, Basri bin Ismail hem om geld vroeg voor sigaretten.

De markt in Nunukan

Pleizier weigerde dat, waarop Ismail hem aanvloog en hem 12 x stak met een 25 cm lang mes.
Pleizier overleed op weg naar het ziekenhuis. Basri, die oorspronkelijk uit Sulawesi komt, werd na een uur gearresteerd. Hij was een bekende op de markt omdat hij na ontslag van plantage werk in Maleisië, in Nunukan was blijven hangen en op de markt sliep. Afhankelijk van de ten laste legging kan hij 15 tot 20 jaar cel krijgen.

Het lichaam van Pleizier is naar het ziekenhuis in de stad Tarakan  vervoerd omdat er in Nunukan geen gekoeld mortuarium is. Zijn ouders zijn ingelicht. Een staflid van de Nederlandse ambassade is ter plaatse om bijstand te verlenen. Er is nog geen beslissing genomen over een autopsie. De Indonesisiche autoriteiten wachten daarover een verzoek van de Nederlandse ambassade af.

nunukan

Turis warga negara Belanda Pleizier (26) tewas mengenaskan dengan 12 tusukan di badan, Jum’at (10/7) sekitar pukul 22.00 WITA di Kabupaten Nunukan. Polisi berhasil meringkus pelaku, Basri bin Ismail (27), satu jam setelah kejadian.

Kepala Kepolisian Resort Nunukan Ajun Komisaris Besar Polisi Purwo Cahyoko menyatakan dari 12 tusukan yang membuat nyawa turis ini melayang tusukan di dada kiri dan tusukan di bawah pusat. Menurutnya, Pleizier meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. "Jenazah sudah kami titipkan ke RSUD di Kota Tarakan karena di Nunukan rumah sakit tak punya kamar mayat pendingin," kata Purwo Cahyoko saat dihubungi dari Samarinda, Sabtu (11/7).

Dijelaskannya, kejadian bermula saat Pleizeir berniat jalan-jalan selama berada di Nunukan. Keberadaannya kata Purwo hanya transit karena akan melanjutkan ke Sebuku setelah menempuh perjalanan dari Tawau Malaysia. Di Nunukan Pleizeir menginap di Hotel Jombang.

Kebetulan malam itu, jelas Purwo, di Kampung Yamaker ada pasar malam. Saat diperjalanan, Basri tiba-tiba meminta uang kepada Pleizeir. "Plezeir sempat memukul tapi Basri berhasil menghindar, saat itu Basri langsung mencabut pisau dari pingganggnya," jelas Purwo.

Pisau yang digunakan sepanjang 25 sentimeter itu dihunjamkan ke seluruh tubuh Pleizeir.
Dari riwayat Basri diketahui jika pemuda asal Toli-toli, Sulawesi Tengah ini tak memiliki pekerjaan alias pengangguran. Sejak ia pulang dari pekerjaannya di Malaysia sebagai TKI di perkebunan Basri tak memiliki tempat tinggal. "Ia biasa tidur di pasar Yamaker itu," jelasnya.

Purwo mengaku hingga kini belum mengambil tindakan seperti otopsi terhadap jenazah. Tapi katanya Polres telah menghubungi kedutaan Belanda di Jakarta melaporkan kejadian itu. "Kami masih menunggu keputusan keluarga melalui Kedubes di Jakarta, untuk otopsi atau tidak," ujarnya.

Atas kejadian ini polisi menjerat Basri dengan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara. Pasal Subsider, polisi menjerat Basri dengan pasal 338 tentang pembunuhan dengan ancaman 15 tahun penjara. "Basri masih kami amankan di Polres Nunukan," katanya.

Advertisements